BPBD - WEBSITE RESMI BPBD WONOSOBO

BPBD
Berita & Informasi

Postingan Terbaru Dari Kami

Terhubung dengan setiap perkembangan pembangunan dan kegiatan kemasyarakatan di Kabupaten Wonosobo.

Lihat Semua Berita
BPBD WONOSOBO SUSUN DOKUMEN RENCANA KONTINGENSI GERAKAN TANAH TAHUN 2026
Berita
admin bpbd wonosobo 04 Nov 2026
0

BPBD WONOSOBO SUSUN DOKUMEN RENCANA KONTINGENSI GERAKAN TANAH TAHUN 2026

WONOSOBO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo melaksanakan kegiatan Penyusunan Dokumen Rencana Kontingensi Gerakan Tanah Kabupaten Wonosobo Tahun 2026 pada 28–29 Oktober 2026, bertempat di Ruang Mangoenkoesoemo Setda Wonosobo.Kegiatan ini merupakan upaya memperkuat kesiapsiagaan dan meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana, khususnya dalam menghadapi potensi bencana gerakan tanah atau tanah longsor di wilayah Kabupaten Wonosobo.Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para Camat se-Kabupaten Wonosobo, serta unsur terkait lainnya. Dukungan fasilitator dan narasumber berasal dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BMKG Banjarnegara, dan BPBD Provinsi Jawa Tengah.Dalam laporan Ketua Panitia, disampaikan bahwa penyusunan dokumen rencana kontingensi ini bertujuan membangun komitmen dan kesiapan bersama lintas sektor, baik pemerintah, masyarakat, akademisi maupun dunia usaha melalui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).Dokumen tersebut diharapkan tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi menjadi pedoman operasional dalam menentukan langkah penanganan apabila terjadi bencana gerakan tanah dengan skala dampak besar. Termasuk di dalamnya pemetaan kesiapan personel serta sarana dan prasarana yang dimiliki masing-masing unsur terkait.Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Wonosobo dalam sambutannya menegaskan bahwa bencana memang tidak sepenuhnya dapat diprediksi maupun dicegah. Namun, risiko, dampak, dan kerugian yang ditimbulkan dapat diminimalkan melalui kesiapsiagaan dan upaya pengurangan risiko bencana.Menurutnya, keberhasilan penanggulangan bencana tidak hanya ditentukan oleh kecepatan bantuan dari luar, tetapi juga oleh kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat sejak detik-detik pertama terjadinya bencana.Masyarakat menjadi pihak pertama yang berhadapan langsung dengan ancaman bencana sekaligus memiliki peran penting dalam memberikan pertolongan awal. Oleh karena itu, diperlukan sinergi dan gotong royong seluruh elemen agar penanganan bencana dapat berjalan secara terpadu dan efektif.Dalam arahannya, Kepala Pelaksana BPBD juga mengajak seluruh peserta untuk menjadi pelopor keselamatan di lingkungan masing-masing serta membangun kerja sama yang kuat dalam penanggulangan bencana, tanpa mengedepankan kepentingan sektoral.Kegiatan Penyusunan Dokumen Rencana Kontingensi Gerakan Tanah Kabupaten Wonosobo Tahun 2026 secara resmi dibuka oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Wonosobo.Melalui kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini, diharapkan terbangun kesamaan pemahaman, koordinasi, serta kesiapan sumber daya seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi bencana gerakan tanah. Dokumen yang dihasilkan nantinya diharapkan menjadi acuan bersama dalam pelaksanaan penanganan darurat sehingga risiko korban jiwa, kerugian, dan dampak bencana dapat diminimalkan.BPBD Kabupaten Wonosobo berkomitmen untuk terus memperkuat kesiapsiagaan dan sinergi lintas sektor guna mewujudkan masyarakat Wonosobo yang tangguh menghadapi bencana.Salam Tangguh! Salam Kemanusiaan!BPBD Kabupaten Wonosobo

Tanah Longsor di Desa Besuki, Wadaslintang
Berita
admin bpbd wonosobo 25 Okt 2026
55

Tanah Longsor di Desa Besuki, Wadaslintang

WONOSOBO, 25 Oktober 2026 – Hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Wonosobo, termasuk Kecamatan Wadaslintang, sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari mengakibatkan kejadian tanah longsor di Desa Besuki, RT 01 RW 01, Dusun Sikapat, Kecamatan Wadaslintang, pada Sabtu (24/10/2026) sekitar pukul 02.00 WIB.Berdasarkan laporan awal yang diterima BPBD Kabupaten Wonosobo melalui grup WhatsApp relawan, kejadian tersebut dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung sejak sekitar pukul 12.00 WIB pada Jumat hingga pukul 02.00 WIB Sabtu dini hari. Hujan yang masih berlangsung menyebabkan air menggenang di sekitar senderan rumah yang baru selesai dibangun hingga mengakibatkan struktur senderan roboh.Material longsoran menimpa bagian tembok dan atap rumah milik Bapak Maryoto (70), yang dihuni oleh dua orang. Akibat kejadian tersebut, tembok rumah mengalami kerusakan sepanjang kurang lebih 10 meter, sementara sebagian besar bagian atap rumah juga mengalami kerusakan.Adapun senderan yang roboh diketahui memiliki tinggi sekitar 3 meter dengan panjang kurang lebih 12 meter. Kerugian material akibat kejadian ini diperkirakan mencapai Rp10.000.000.Penanganan dan KoordinasiBPBD Kabupaten Wonosobo bersama unsur terkait telah melakukan asesmen di lokasi kejadian, koordinasi penanganan, serta menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, khususnya tanah longsor saat hujan dengan intensitas tinggi.Gotong royong telah dilakukan untuk membersihkan material longsoran dan membantu proses pembersihan serta perbaikan rumah terdampak. Adapun rencana penanganan lanjutan masih menunggu hasil koordinasi dengan Pemerintah Desa Besuki.Unsur yang terlibat dalam penanganan kejadian meliputi BPBD Kabupaten Wonosobo, Kecamatan Wadaslintang, Koramil Wadaslintang, Polsek Wadaslintang, Relawan Penanggulangan Bencana (RPB) Kecamatan Wadaslintang, Pemerintah Desa Besuki, Kampung Siaga Bencana (KSB) Desa Besuki, serta masyarakat setempat.Kebutuhan PascakejadianUntuk mendukung proses perbaikan rumah terdampak, kebutuhan yang telah diidentifikasi meliputi seng, paku, semen, dan permakanan.BPBD Kabupaten Wonosobo mengimbau masyarakat agar tetap waspada, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar tebing, lereng, talud, maupun bangunan penahan tanah. Masyarakat diharapkan segera melaporkan kepada pemerintah desa atau BPBD apabila menemukan tanda-tanda potensi longsor, seperti retakan tanah, tembok penahan yang mulai bergeser, atau munculnya rembesan air yang tidak biasa.Apabila terjadi keadaan darurat kebencanaan, masyarakat dapat menghubungi BPBD Kabupaten Wonosobo melalui Call Center Pusdalops di nomor 0813-1111-6976 atau telepon (0286) 322908.BPBD Kabupaten Wonosobo terus mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat semangat gotong royong dalam menghadapi potensi bencana.Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan.

KEBAKARAN HUTAN GUNUNG SUMBING DI WILAYAH WONOSOBO DINYATAKAN PADAM, LUAS TERBAKAR MENCAPAI 362 HEKTARE
Berita
admin bpbd wonosobo 24 Okt 2026
97

KEBAKARAN HUTAN GUNUNG SUMBING DI WILAYAH WONOSOBO DINYATAKAN PADAM, LUAS TERBAKAR MENCAPAI 362 HEKTARE

Wonosobo, 23 Oktober 2026 — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo melaporkan bahwa kebakaran hutan di Gunung Sumbing, wilayah Kabupaten Wonosobo, telah dinyatakan PADAM pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 16.30 WIB, berdasarkan laporan tim gabungan di lapangan.Kebakaran yang pertama kali dilaporkan pada Senin, 19 Oktober 2026, tersebut terjadi di kawasan hutan Gunung Sumbing pada ketinggian sekitar 2.500–2.709 meter di atas permukaan laut (mdpl), tepatnya di petak 29 RPH Kleseman, BKPH Wonosobo, KPH Kedu Utara. Informasi awal diterima dari porter pendakian Gunung Sumbing melalui jalur Gajah Mungkur, Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar.Berdasarkan laporan Perhutani hingga 22 Oktober 2026, total luas kawasan yang terbakar tercatat mencapai 362 hektare. Kebakaran melanda kawasan KPH Kedu Utara, BKPH Wonosobo, RPH Kleseman, dan RPH Anggrungondok. Jenis vegetasi yang terdampak meliputi mlanding gunung, krinyu, bintami, tengsek, akasia, serta semak belukar.Penanganan oleh Tim GabunganSejak hari pertama kejadian, tim gabungan melakukan upaya pemadaman secara manual, evakuasi pendaki, serta pemantauan dan penyisiran di sejumlah titik terdampak.Pada Senin, 19 Oktober 2026, tim gabungan dari sejumlah basecamp melakukan pemadaman manual hingga pukul 21.00 WIB. Bersama Basarnas, tim juga melaksanakan evakuasi terhadap 152 pendaki yang tercatat dalam data registrasi.Pada Selasa, 20 Oktober 2026, sekitar 250 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan penanganan melalui jalur pendakian Gajah Mungkur. Meskipun kebakaran di petak 29 telah padam, titik api di sisi barat daya masih meluas dan mengarah ke jalur pendakian Gunung Sumbing melalui Desa Bowongso serta jalur Stikpala di Desa Butuh.Operasi kemudian dilanjutkan pada Rabu, 21 Oktober 2026, dengan melibatkan sekitar 300 personel melalui dua jalur pendakian, yakni jalur Stikpala, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, dan jalur Desa Banyumudal, Kecamatan Sapuran. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa area yang menjadi fokus penanganan saat itu telah terbakar dan padam. Namun, titik kebakaran kembali teramati di wilayah sebelah barat, dekat perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung.Pada Kamis, 22 Oktober 2026, sekitar 70 personel gabungan melaksanakan pemantauan dan penyisiran melalui jalur lama. Tim mendapati beberapa titik api, antara lain di bawah punggungan Pos 2, sisi timur Pos 2 yang mengarah ke wilayah Temanggung, serta kawasan In Memoriam.Selanjutnya, pada Jumat, 23 Oktober 2026, tim gabungan kembali melaksanakan operasi pemantauan dan penanganan titik api dengan mengerahkan personel melalui jalur Pos 2 dan kawasan In Memoriam. Operasi dihentikan sementara pada pukul 15.00 WIB akibat hujan. Berdasarkan laporan tim gabungan pada pukul 16.30 WIB, kebakaran di wilayah Kabupaten Wonosobo dinyatakan padam.Kendala PenangananDalam pelaksanaan operasi, tim gabungan menghadapi sejumlah kendala, antara lain angin yang cukup kencang, medan yang terjal, serta jarak pandang terbatas akibat kabut tebal. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan keamanan dan waktu pelaksanaan operasi di lapangan.Selama penanganan kejadian, tidak terdapat korban jiwa maupun korban luka-luka berdasarkan laporan yang diterima.Pemantauan Tetap DilanjutkanMeskipun kebakaran di wilayah Kabupaten Wonosobo telah dinyatakan padam, upaya pemantauan dan monitoring tetap dilanjutkan untuk memastikan tidak ada titik api yang tersisa maupun muncul kembali.Sesuai rencana operasi, pada Sabtu, 24 Oktober 2026, tim gabungan dijadwalkan melaksanakan pemantauan menyeluruh di area bekas kebakaran. Langkah ini dilakukan sebagai upaya memastikan kondisi kawasan tetap aman serta mengantisipasi potensi munculnya kembali titik api.Posko lapangan penanganan kebakaran Gunung Sumbing berada di Basecamp Stikpala, Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar.Penanganan kebakaran melibatkan berbagai unsur, di antaranya BPBD Provinsi Jawa Tengah, BPBD Kabupaten Wonosobo, Polres Wonosobo, Basarnas, Perhutani, Yonif TP 444/SSN, Tim Labfor Polda Jawa Tengah, PMI, BAZNAS, perangkat daerah terkait, pemerintah desa, pengelola basecamp, relawan gabungan, dan masyarakat.BPBD Kabupaten Wonosobo mengimbau masyarakat, pendaki, serta seluruh pihak yang beraktivitas di kawasan Gunung Sumbing untuk tetap waspada, mematuhi arahan petugas, dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan. Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan indikasi munculnya titik api.Informasi dan laporan kedaruratan dapat disampaikan melalui Call Center 112 (bebas pulsa, 24 jam) atau WhatsApp BPBD Kabupaten Wonosobo di 0813-1111-6976.BPBD Kabupaten WonosoboJl. Jenderal Soeharto Km 5 No. 7, Kompleks DPUPR, Kalierang, SelomertoTelepon/Faks: 0286-322908Email: [email protected]: https://bpbd.wonosobokab.go.idInstagram: https://instagram.com/bpbdwonosobo

Layanan Aplikasi

Jelajahi Layanan Digital Kabupaten Wonosobo

Akses cepat ke berbagai platform layanan publik digital resmi Pemkab Wonosobo.